Di Aceh Siswa Wajib Mampu Baca Al-Quran

Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh mulai tahun depan menerapkan wajib mampu baca Al-quran bagi calon siswa baru termasuk siswa Sekolah Dasar (SD) sederajat. Hal itu diberlakukan sebagai upaya mewujudkan pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah di ibukota Provinsi Aceh.

Komitmen Pemko ini menjadi warning bagi para orang tua dan murid yang melanjutkan pendidikan anaknya ke sekolah dan menyiapkan diri agar mampu baca Al-quran, karena tahun depan, calon siswa baru wajib memiliki sertifikat tamat mengaji yang dikeluarkan Lembaga Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan Pendidikan Agama Islam. Jika tidak, sekolah di Kota Banda Aceh dipastikan tidak menerima calon siswa itu.

”Sekarang ini kita tengah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar nantinya mereka tidak terkejut dan senantiasa tergugah memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya, karena sebentar lagi calon siswa yang melanjutkan sekolah wajib memiliki sertifikat membaca Al-quran,” kata Asisten II Bidang Keistimewaan Ekonomi dan Pembangunan Pemko Banda Aceh, Ramli Rasyid.

Ia menyebutkan, Pemerintah Aceh telah mengeluarkan peraturan gubernur (Pergub) yang mengamanahkan siswa baru wajib mampu membaca Al-quran berdasarkan jenjang dan tingkatan, tapi hal itu tidak diterapkan.

“Pemerintah Kota Banda Aceh sendiri punya komitmen melaksanakannya dan sebagai tahap awal. Kini kita melakukan sosialisasi agar nantinya masyarakat tidak menuduh pemerintah,”ujar Ramli yang juga Ketua PGRI Aceh.

Program tersebut, lanjutnya, selain untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan bagi anak-anak, juga untuk memciptakan rasa bangga dengan persoalan agama bagi siswa, sehingga bisa mengikuti pendidikan di sekolah ini secara baik.

“Ini juga bertujuan bertujuan agar siswa mampu  membaca Al-quran, karena tidak menutup kemungkinan, masih banyak masyarakat yang enggan memberikan pendidikan agama kepada anaknya,” lanjut Ramli.

Siswa-siswi tingkat SD nantinya wajib memiliki sertifikat mampu mengenal huruf Arab. Siswa-siswi SMP wajib memiliki sertifikat mampu membaca dengan lancar, sementara siswa-siswi SMA wajib mengetahui membaca, menulis dan memahami isi Al-Quran.

Langkah tersebut, lanjutnya, dilakukan untuk memaksakan masyarakat agar memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya,  dan bagi masyarakat yang anaknya tidak bisa membaca Al-Quran akan gelisah, sehingga nantinya balai pembelajaran agama dan Masjid di Kota Banda  akan selalu penuh.

Selain itu Ramli juga menyebutkan masyarakat dulu akan bangga mampu membaca Al-Quran, tetapi sekarang mereka lebih bangga bila melakukan hal yang tidak bermamfaat. “Tapi kita mau menciptakan masyarakat bangga dengan keagamaan membaca Al-Quran jadi menu keseharian. Dan kita mengiginkan anak-anak kita sejak dini mencintai dia mencintai Al-Quran,” sebutnya.

 

Source : Warta Islam

Muslim Indonesia bantu Sebarkan Islam di Afrika Selatan

Secara tidak langsung, Indonesia ternyata ikut andil dalam menyebarkan Islam di Benua Hitam, terutama Afrika Selatan (Afsel). Bagaimana kisahnya?

Hal ini dimulai sejak jaman penjajahan Belanda pada abad ke-17 di Indonesia. Ketika itu, banyak orang-orang Indonesia dipekerjakan di Cape of Good Hope atau sekarang dikenal sebagai Cape Town. Mereka membawa agama Islam ke tempat barunya dan turut menyebarkannya di Afsel.

Diantara mereka, ada satu tokoh sentral yang hingga kini menjadi tokoh penting penyebaran dan perkembangan Islam di Afsel, yakni Syekh Yusuf Al Makassari Al Bantani. Kehadiran Syekh Yusuf yang menantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten ini, diawali perjuangannya melawan Belanda di banten.

Perlawan Syekh Yusuf membuatnya dibuang ke Ceylon, Sri Lanka. Meski jauh, ia masih juga merasakan cengkeraman pemerintah Belanda yang saat itu bermarkas di Batavia, Jakarta jaman dulu. Sebab itulah ia kembali diasingkan ke benua Afrika.

Ulama besar keturunan Raja Gowa itu akhirnya tiba di Cape of Good Hope, menumpang kapal ‘Voetboeg’ bersama 49 orang. Termasuk dua istri, 12 santri, dua pembantu wanita, 14 sahabat, putra-putrinya, serta para pengikut. Ia kemudian ditempatkan di Zandvliet, dekat muara Eerste River yang area pertanian.

Penempatannya di daerah terpencil bertujuan membatasi karisma dan pengaruh Syekh Yusuf. Namun, Belanda tetap tak bisa membendung popularitas dan pengaruhnya. Daerah Zandvliet pun terpesona olehnya.

Bersama para pengikut dan 12 santri, Syekh Yusuf berdakwah kepada orang-orang lain yang dibuang oleh Belanda di Cape of Good Hope. Rata-rata, dibuang sebagai budak, pekerja atau tahanan politik. Akhirnya mereka semua bersatu, membentuk komunitas yang cikal bakal komunitas Muslim Afsel.

Zandvliet kemudian dikenal sebagai Kampung Makassar, karena mayoritas pengikutnya berasal dari Makassar. Nama itu masih digunakan hingga saat ini. Saat itu, Muslim tak boleh beraktivitas secara terbuka, sebab itulah pertemuan rutin dilakukan diam-diam.

Kegiatan yang dilakukan Syekh Yusuf dan pengikutnya, diakui masyarakat dan pemerintah Afsel sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah Belanda. Bahkan, Presiden pertama Afrika Selatan Nelson Mandela menyatakan, perjuangannya diilhami Syekh Yusuf.

Untuk menghargai jasa-jasa Syekh Yusuf terhadap Afsel, pada 2005, Presiden kedua Afsel Thabo Mbeki memberikan penghargaan The Order of Supreme Companions of OR Tambo (Gold), sebagai bentuk pengakuan terhadap perjuangannya.

Syekh Yusuf wafat pada 1699 dan dimakamkan di Zandvliet, Afrika Selatan. Makamnya dikenal sebagai Kramat Macassar atau Macassar Faure. Anggota komunitas muslim Afsel hingga saat ini masih sering berziarah ke tempat itu.

Pada akhirnya, Belanda mengakui peran besar Syekh Yusuf. Hal ini terlihat dari monumen yang dibangun di Kampung Makassar, bertuliskan ‘In Memory of Syekh Yusuf, Martyr and Hero of Bantam 1626-1699. This Minaret was erected by Hajee Sullaiman Shahmahomed, in the Reign of King George V, May 1925’.

Semangat Islam Indonesia inilah yang kemudian dibina oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Cape Town, saat Konsul Jendral Sugie Harijadi memutuskan untuk menggelar program Safari Ramadhan, sejak ia mengepalai KJRI Cape Town pada 2010 lalu.

“Tampaknya program ini sangat mengena. Rasa nasionalisme harus terus dibina karena bisa luntur. Salah satu caranya, melalui siraman rohani,” ujar Sugie yang tahun ini mengundang Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Salman Harun Ahmad untuk memberi siraman rohani.

 

Source : Warta Islam

‘Tak Perlu Galau Rendang Diklaim Malaysia’

Pakar kuliner William Wirjaatmadja Wongso berpendapat, pemerintah dan masyarakat Sumatera Barat tidak perlu risau jika Malaysia juga mengklaim masakan rendang milik mereka.

“Makanan itu tidak bisa dipatenkan. Contohnya sushi dari Jepang yang tidak dipatenkan, bahkan masyarakatnya senang nama itu dipakai di luar negara mereka,” katanya saat meninjau festival rendang di Taman Budaya Sumatera Barat di Padang, Selasa.

Ia mengatakan, setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal penyajian dan cara pembuatan makanan, namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara menyebarkan cara memasak rendang yang benar di luar daerah agar dikenal berasal dari Sumbar.

“Masyarakat Malaysia yang memasak rendang ayam hingga berwarna merah sudah menyebutnya dengan rendang, sementara bagi saya jika rendang tidak hitam itu bukan rendang,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat Malaysia juga mencampurnya dengan kelapa yang diparut dan sudah pasti berbeda dengan penyajian rendang di Sumbar. Bahkan di Belanda banyak ditemukan makanan bernama rendang tapi rasa semur.

“Yang terpenting itu adalah bagaimana menyebarkan cara memasak rendang yang benar di luar Sumbar, sehingga tidak ada perbedaan rendang di Sumbar dengan di daerah lain,” katanya.

Ia mengakui rendang berasal dari Sumbar. Akan tetapi jika masakan yang terbuat dari daging sapi, kerbau, ayam, atau kambing itu diperbincangkan di luar Sumbar sebaiknya menggunakan nama rendang padang.

“Tapi jika menjadi pembicaraan di Sumbar sebaiknya diikuti nama daerah seperti rendang Padang, rendang Pariaman, rendang Solok, rendang Limapuluh Kota, atau nama daerah lain pembuatnya. Ini sebentk apresiasi karena rendang di masing-masing daerah di Sumbar memiliki cita rasa berbeda,” ujarnya.

Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: Antara

Source  : Republika

Mahar Cinta

 

Rasulullah SAW menegaskan dalam salah satu hadisnya, “Wanita yang paling agung berkahnya adalah yang paling ringan maharnya.” (HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dengan sanad yang sahih).

Namun, dalam kenyatan di masyarakat, kita sering menjumpai banyak orang tua yang meminta mahar tinggi, sebagai syarat sah nikah. Tak jarang, hal itu memberatkan calon suaminya. Bahkan, ada juga pernikahan urung di langsungkan gara-gara tidak ada titik kesepakatan soal besaran mahar.

Sangat disayangkan, sebagian umat justru menggunakan pernikahan sebagai me dia untuk berlomba mencari kekayaan, yaitu dengan meninggikan mahar. Karena, menurut asumsi mereka, orang yang menikahkan anak gadisnya dengan lelaki yang memberikan mahar berupa uang dan perhiasan banyak, maka dia telah menikahkan dengan orang yang bertanggung jawab. Mereka juga mengira bahwa semua itu merupakan jaminan untuk hidup bahagia.

Masya Allah! Apakah mereka merasa lebih mulia dari para sahabat wanita Nabi? Ataukah mereka merasa lebih cantik dan bernasab baik daripada Ummu Sulaim? Ataukah mereka mengira lebih tinggi derajatnya daripada Ibunda Kaum Muslimin Khadijah RA yang telah Allah buatkan rumah di surga? Sungguh para wanita sahabat Rasulullah itu–yang ketakwaannya, kedudukan, dan nasabnya lebih baik daripada wanita zaman sekarang–tidak pernah mempersulit mahar.

Novel Tilawah Cinta yang ditulis oleh El Salman Ayashi Rz, antara lain mengupas tentang pentingnya mahar itu dipermudah. Justru mahar yang dipermudah itu merupakan mahar cinta terindah. Melalui jalinan cinta yang mengharukan di antara tokoh-tokohnya: Farhan yang merupakan santri pencari jati diri, kebahagiaan dan cinta; Rindiani, seorang wanita salehah yang tidak pernah takut untuk mati meninggalkan dunia; dan Rini, juga wanita salehah dan cerdas, yang tahu benar makna cinta sejati yang harus dia bagi dan nikmati bersama suaminya.

Novel yang merupakan buku pertama dari dwilogi “Ku Antar Kau ke Surga” ini ditulis dengan alur cinta yang menyentuh dan mengharukan. Dengan gaya bahasa sastra yang indah, bab demi bab dalam novel ini akan menggiring pembaca memahami hidup yang penuh misteri dengan bijak, mulai dari pencarian jati diri dan kebahagiaan, hingga masalah jodoh dan maut.

Salah satu pelajaran terpenting yang bisa diambil dari novel ini adalah pentingnya perjuangan hidup dan kesiapan menghadapi risiko dalam hidup. Seperti ditegaskan oleh Dr Sudarnoto Abdul Hakim MA saat memberi pengantar novel ini, “Setelah membaca novel ini, kesadaran saya semakin kuat bahwa hidup ini memang harus diperjuangkan, harus diatur, dan direncanakan. Kedua, berbagai risiko yang akan dihadapi dalam memperjuangkan hidup ini pasti saja ada.”

Novel yang sangat inspiratif ini sangat perlu dibaca, terutama oleh mereka yang sedang berencana menikah. Intinya adalah makna terdalam sebuah pernikahan adalah semata-mata untuk meraih ridha dan cinta-Nya.

Judul         : Tilawah Cinta
Penulis     : El Salman Ayashi Rz
Penerbit  : Medhatama Restyan
Cetakan   : I, April 2012
Tebal         : xv+342 hlm

 

Source : Republika

Tiga Muslimah Saudi dilarang Masuk Prancis Karena Bercadar

 

Larangan pemakaian cadar bagi Muslimah kembali memakan korban. Bukan Muslimah Prancis yang kali ini terkena larangan, melainkan Muslimah Arab Suadi. Hal itu terjadi ketika, tiga Muslimah tersebut tiba di bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis, Selasa (12/6).

Pihak kepolisian di Bandara, Paris, Prancis melarang ketiga Muslimah Saudi yang tiba pada Senin waktu setempat untuk masuk ke Paris. Pangkalnya, ketiganya menggunakan cadar. Pihak kepolisian bandara juga meminta ketiganya untuk melepaskan cadarnya jika ingin meneruskan perjalanannya di Paris.

Tiga Muslimah itu tiba di Paris dari Doha, Qatar. Merasa dihina dengan disuruh melepaskan cadarnya, ketiga Muslimah itu pun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalannya di Paris dan kembali ke Doha, Qatar, pada Senin malamnya.

Salah satu polisi yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku bahwa pihaknya tidak bisa mempublikasikan peristiwa tersebut ke publik, karena bukan merupakan otoritasnya.

Seperti diketahui, Prancis secara resmi melarang Muslimah untuk menggunakan cadar yang dapat menutup wajahnya ketika berada di area publik pada 2011. Aksi penolakan berupa demonstrasi terus dilakukan hingga saat ini yang menolak keputusan mantan Presiden Nicholas Sarkozy tersebut.

Para penentang menilai, kebijakan tersebut sangat kontradiktif dengan prinsip sekularisme yang dianut di Prancis dan hak-hak kaum perempaun. Beberapa kelompok Muslim menilai hal itu memberikan stigma terhadap Muslim yang moderat.
Source : Republika

Isa Graham: Alquran Buktikan Kebenaran Injil (Bag 3-habis)

Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme, dan aku tertarik pada Islam.”

Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, pemerintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku, dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”

Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim, hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.

Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan popular. Ia bisa berpesta sesering apapun bersama teman-teman yang mengelukannya. “Namun aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”

Namun terlepas dari kondisi tidak membahagiakan itu, Brent sangat mencintai musik. Ia mempelajari musik, memainkannya, mengajarkannya, dan menjadi bahagia dengannya. Hingga ia berfikiran bahwa musik adalah agamanya, karena mampu membuatnya bahagia.

Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangunkannya di sebuah malam. “Aku berkeringat dan menangis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapanpun’,” tuturnya.

Dengan keringat dan air mata itu, Brent memanjatkan doa. “Aku meminta pada semua Tuhan; Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan siapapun, karena aku tak yakin harus meminta pada salah satu diantaranya.”

“Tuhan, aku teramat sedih dan gundah dan tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tolong, beri aku isyarat, beri aku petunjuk, beri aku jalan keluar,” Brent mengutip doa yang diucapkannya 15 tahun lalu.

Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Seorang Muslimah asal Burma yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah email. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah, dan dalam emailnya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.

Beberapa hari kemudian, teman asal Burma itu datang ke rumah Brent dan membawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak dari sahabat Nabi saw, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang kumau’.”

Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memintanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, bertambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.

Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non Muslim) tahu bahwa dalam Islam, kami juga mempercayai Yesus,” ujarnya. Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, melainkan mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya pada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, namun sebagai Muslim,” tegas Brent menutup perbincangan.

Source : Republika

Fenomena Penemuan Injil Barnabas di Turki

Segera setelah polisi Turki menggerebek kelompok penyelundup benda purbakala di Turki Selatan, 12 tahun lalu, sebuah kitab dibawa ke Ankara. Di ibu kota Turki ini, kitab itu langsung masuk brankas kantor Pengadilan Tinggi Turki.

Pemerintah Turki membatasi akses orang terhadap kitab itu. Hanya segelintir orang bisa melihatnya langsung. Dinas intelijen Turki pun terlibat. Mereka mengawasi siapa-siapa yang bisa mengakses kitab dan memantau perkembangan penerjemahannya.

Februari 2012, kitab misterius itu akhirnya muncul di berbagai media internasional dengan nama Injil Barnabas. Injil ini ditulis di atas kulit hewan yang berwarna cokelat kehitaman. Penulisnya menggunakan tinta dari emas dan bahasa Aramaic, bahasa yang diperkirakan bahasa ibu Yesus Kristus. Umurnya? Diperkirakan 1.500 tahun Masehi.

Otoritas Turki akhirnya memindahkan kitab itu dari brankas ke Museum Etnografi di Ankara. Apa istimewanya Injil ini? Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Ertugul Gunay mengatakan, Injil Barnabas lebih sejalan dengan ajaran Islam ketimbang empat Injil lainnya (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Tentang tokoh Yesus Kristus, di dalam Injil ini digambarkan sebagai manusia biasa, bukan Tuhan. “Sejarah Kristen bisa berubah karena Injil ini,” kata Ertugul dalam wawancara televisi Hurriyet.

Dia lalu mengutip salah satu ayat dalam Injil Barnabas. “Yesus berkata pada seorang pendeta. Bagaimana kami memanggil mesias (juru selamat)? Muhammad adalah nama yang diberkati,” kata Ertugul, seperti dikutip dari Alarabiya.net. Tokoh Yesus, sambung Ertugul, dalam Injil ini juga me nyangkal kalau ia seorang mesias. Yesus mengatakan, kalau juru selamat itu datang dari keturunan Nabi Ismail. Artinya, datang dari bangsa Arab.

Tapi, yang paling mengejutkan mungkin soal ketertarikan Vatikan. Ertugul mengungkapkan, ketika mengetahui Injil Barnabas ada di Turki, utusan Vatikan meminta salinan Injil itu. Namun, Kedutaan Besar Vatikan di Turki membantah pernyataan Ertugul maupun laporan media lokal yang memberitakan permintaan itu.

Perdebatan antarpakar di Turki pun menyeruak soal Injil ini. Omer Faruk Harman, pakar teologi, mengatakan, butuh penelitian lebih lanjut untuk membongkar rahasia Injil Barnabas. Menurut dia, isi Injil ini sesuai dengan keyakinan umat Islam bahwa Yesus memang nabi yang diutus Allah SWT, tapi ia tetap manusia biasa. Injil ini juga menolak konsep trinitas dan peristiwa penyaliban Yesus di Bukit Golgotha. “Dalam Injil ini juga ada ramalan tentang Nabi Muhammad yang segera datang,” kata Omer.

Namun, pendeta Kristen Protestan, Ihsan Ozbek, meragukan keabsahan Injil ini. Alasan dia cukup kuat. Pertama, memang benar ada murid Yesus bernama Barnabas yang hidup semasa dengan Yesus. Itu berarti, Barnabas hidup sekitar tahun 1 Masehi. Kedua, Injil Barnabas diperkirakan dibuat pada 500 Masehi atau 600 Ma sehi.

Dengan demikian, kata Ihsan, tidak mungkin Injil milik Pemerintah Turki itu ditulis oleh Barnabas. Ia menduga, Injil itu ditulis oleh murid Barnabas. “Umat Islam mungkin kecewa melihat kalau kitab ini salinan dan tidak seperti yang mereka harapkan. Bahkan, kitab ini bisa jadi bukan Injil Barnabas,” kata Ihsan.

Aydogan Vatandas, wartawan harian terkemuka di Turki, Zaman, yang menulis dua buku tentang Injil Barnabas, mengatakan, kitab itu memang ditulis dalam bahasa Aramaic. Bahasa ini sekarang nyaris punah dan kemungkinan komunitas yang masih menggunakannya ada di Damaskus, Suriah.

Menurut Vatandas, dinas in telijen Turki sangat tertarik pada Injil ini. Mereka menugaskan pakar bahasa Aramaic, Hamzah Hocagil, untuk menerjemahkan sejumlah bagian Injil ini dalam pengawasan ketat. Namun, Hamzah mengungkapkan kepada wartawan kalau ia menerjemahkan Injil itu. Ini membuat militer dan intelijen Turki menghentikan proyek penerjemahan.

Dari risetnya, Vatandas belakangan menemukan kalau Injil Barnabas rupanya bukan satu versi. Ada tiga versi kitab itu yang ditulis oleh murid Barnabas.

Di pasar barang antik, bila benar ini Injil Barnabas, sudah ada yang membanderol harga nya setinggi langit. Untuk kitab Barnabas yang asli dihargai 28 juta dolar AS atau setara Rp 262 miliar, sementara salinannya seharga 1,7 juta dolar AS atau sekitar Rp 15,9 miliar. (Bersambung)

Source : Republika